cool hit counter

PWM Sulawesi Selatan - Persyarikatan Muhammadiyah

 PWM Sulawesi Selatan
.: Home > Sejarah

Homepage

Sejarah Muhammadiyah di Sulawesi Selatan

MASUKNYA ISLAM

Penulis sejarah Thomas W. Arnold menerangkan bahwa ketika Portugis pertama kali memasuki Sulawesi Selatan tahun 1540 M, mereka menemukan telah banyak orang Islam di Gowa ibukota Kerajaan Makassar.
Pada masa raja Gowa ke-10 Tunipalangga (1546 – 1565), raja ini memberi izin kepada orang-orang Melayu untuk menetap di Mangalekana (Somba Opu). Raja Gowa ke-12 Tunijallo’ telah mendirikan masjid bagi muslimin di tempat itu. Inilah masjid pertama yang di dirikan di negeri orang Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan. Para pedagang muslim itulah yang banyak memberi pengaruh kepada orang-orang Makassar memeluk Islam.

Islamisasi di Sulawesi Selatan selanjutnya dihubungkan dengan kedatangan dan peranan tiga orang ulama asal Minangkabau, secara khusus dikirim oleh Sultan dari Kerajaan Aceh. Ketiga ulama itu : Abdul Makmur Khatib Tunggal (Datuk ri Bandang), Khatib Sulaiman (Datuk Patimang) dan Abdul Jawab Khatib Bungsu (Datuk Tiro).

Untuk penyebaran Islam secara efektif, ketiga ulama itu memandang perlu menggunakan pengaruh Raja Luwu. Karena Luwu adalah kerajaan tertua dan rajanya masih memiliki kharisma di kalangan raja-raja. Salah satu tonggak sejarah dalam awal periode Islamisasi ini, bahwa raja yang mula-mula memeluk Islam di Sulawesi Selatan ialah Datu Luwu La Patiware’ Daeng Parabbung, diberi gelar Sultan Muhammad, pada tanggal 13 Ramadhan 1013 H. (1603 M).
 
PROSES ISLAMISASI

Ketiga ulama tersebut selanjutnya meminta kepada Raja Luwu petunjuk tentang upaya dakwah Islam di kerajaan lainnya. Datu Luwu memberi pertimbangan, bahwa sebaiknya beliau bertiga menghubungi kerajaan kembar : Gowa Tallo (Kerajaan Makassa). Kerajaan yang sangat terkenal sebagai yang terkuat memiliki supremasi politik di Sulawesi Selatan.

Ketiga ulama itu segera berangkat menuju Gowa Tallo. Tapi kemudian mereka sepakat untuk berpisah guna menunaikan dakwah Islam. Abdul Jawab Khatib Bungsu singgah du daerah Tiro (Bulukumba), beliau mengembangkan Islam dengan pendekatan tasawuf. Sulaiman Khatib Sulung, setelah tiba bersama Abdul Makmur Khatib Tunggal di Gowa, Sulaiman kembali lagi ke Luwu untuk mengajarkan agama Islam di sana dengan mengutamakan keimanan (tauhid) serta mempergunakan konsep ketuhanan Dewata Seuwae yang telah berkembang sebelumnya sebagai metode pendekatan. Yang menetap di Gowa ialah Abdul Makmur Khatib Tunggal (Datuk Ri Bandang).

Abdul Makmur Khatib Tunggal berhasil mengislamkan raja Tallo I Malingkaan Daeng Manyonri dan Raja Gowa I Mangarangi Daeng Manrabia. Raja Tallo diberi gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam, sedang Raja Gowa diberi gelar Sultan Alauddin. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada tanggal 9 Jumadil Awal 1015 H bertepatan dengan tanggal 22 September 1605 M, pada malam Jumat.

Kerajaan Tallo dan kerajaan Gowa adalah kerajaan kembar, lazim disebut Kerajaan Makassar saja. Dua tahun kemudian, seluruh rakyat Gowa dan Tallo dinyatakan memeluk Islam. Dilaksanakan dengan upacara shalat Jumat bersama yang pertama di masjid Tallo pada tanggal 9 November 1607. Kerajaan Makassar dengan resmi memproklamirkan Islam sebagai agama resmi kerajaan. Dengan demikian Makassar adalah kerajaan Islam yang pertama di Sulawesi Selatan.

Pada masa sebelum datangnya Islam, ada suatu konvensi raja-raja Bugis dengan raja Makassar, suatu paseng (Ikrar) bahwa siapa di antara mereka menemukan jalan yang lebih baik maka hendaklah di antara mereka menemukan jalan yang lebih baik maka hendaklah menyampaikannya kepada yang lainnya. Sebab itu Makassar mendapat kehormatan sejarah untuk menjadi pusat dakwah Islam di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17.

Atas dasar paseng  itu, Sultan Alauddin mengirim utusan kepada segenap raja-raja di seluruh Sulawesi Selatan. Beberapa kerajaan kecil menerima seruan Islam itu dengan baik dan sebagiannya menolak, karena curiga tentang kemungkinan adanya tujuan-tujuan politis dari raja Gowa Tallo. Termasuk yang menolak ialah raja-raja : Bone, Wajo dan Soppeng dikenal dengan Tellumpoccoe, tiga serangkai yang besar.

Akibatnya kerajaan Makassar mengangkat senjata menghadapi mereka, terkenal dalam sejarah Bugis sebagai peperangan Islam (musu sellengnge), selama empat tahun Sulawesi Selatan berhasil diislamkan secara resmi sampai kepada Toraja. Berturut-turut menerima Islam : Kerajaan Sidenreng dan Rappang tahun 1608, Kerajaan Soppeng tahun 1609, kerajaan Wajo tahun 1610 dan kerajaan Bone tahun 1611. Raja Wajo Lasangkuru Mulajaji ketika akan menerima Islam mengajukan syarat dan disepakati oleh raja Gowa : “Tenna reddu muiwesseku, tenna timpa salewoku, tenna sesse balaori tampukku”. Artinya, tidak merampas kerajaanku, tidak mengambil harta rakyatku dan tidak mengambil barang-barang milikku.

Selanjutnya Islam menanamkan terus pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat, sehingga adat dan agama menyatu dalam sistem nilai dalam masyarakat Sulawesi Selatan. Islam telah menjadi jiwa pertahanan rakyat, sehingga daerah ini termasuk paling akhir dijamah oleh Belanda. Suatu bukti, bahwa barulah pada tahun 1905 Kerajaan Sidenreng dan Rappang di bawah Addatuang La Sadapotto menyerah setalah melalui peperangan seru yang meninggalkan banyak korban, karena rakyat tidak mau dijajah oleh orang kafir.

Adanya penganut agama Nasrani di daerah ini, karena agama itu terbawa oleh penjajah Belanda. Jumlahnya pun relative sedikit, tidak terdapat pada suku Makassar, Bugis dan Mandar sebagai suku terbesar Sulawesi Selatan.

GERAKAN PEMBAHARUAN

Muhammadiyah yang didirikan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 M oleh K. H. Ahmad Dahlan segera mendapat sambutan meluas di nusantara ini. Di Yogyakarta, organisasi ini lahir
mempelopori gerakan pembaharuan (tajdid) yaitu upaya mengembalikan dan memimpin ummat kepada ajaran-ajaran Islam yang asli murni berdasar Al Qur’an dan Ash Sunnah yang Shahih.

Hanya dalam waktu tiga belas tahun lebih, sesudah berdirinya Muhammadiyah, daerah Sulawesi Selatan mendapat rahmat dengan masuknya Muhammadiyah di daerah ini. Dalam kurun waktu yang cukup lama, sejak masa awal Islamisasi di Sulawesi Selatan, menyatunya ajaran-ajaran agama dengan adat istiadat daerah, berkembangnya ajaran-ajaran tarekat yang menyesatkan dengan memakai label Islam, menyusul penjajahan Belanda yang mengeksploitasi rakyat sambil membawa agama Nasrani; semua membawa permasalahan bagi umat Islam. Mereka banyak tergelincir dalam perbuatan syirik, khurafat dan bid’ah; tapi tidak disadarinya sebab kejahilannya terhadap Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Di samping itu tiadanya bimbingan metode menghadapi gerakan nasrani dan penjajah.

Maka masuknya Muhammadiyah sebagai momen yang amat tepat bagi daerah ini. Muhammadiyah dengan gerakan tablighnya, gerakan pendidikannya, sekolah-sekolah yang dibangunnya, penyantunannya terhadap kaum fakir miskin dan anak-anak yatim, pengaturan sistem zakat, pemantapan cara-cara beribadah sesuai dengan sunnah Rasul, segera memberi wajah baru bagi ummat Islam Sulawesi Selatan.

Bagi kaum muda, lembaga kepanduan HW (Hizbul Wathan) menjadi pesemaian tumbuhnya pemimpin-pemimpin umat dan pejuang-pejuang bangsa. Mayoritas pemimpin dan pejuang kemerdekaan adalah hasil binaan Hizbul Wathan Muhammadiyah. Para syuhada yang gugur dalam revolusi fisik, banyak pula berasal dari kepanduan ini. Maka sejarah dan profil Sulawesi Selatan dewasa ini, gerakan pembaharuan Muhammadiyah banyak menyumbangkan andilnya.

BERDIRINYA MUHAMMADIYAH  SULAWESI SELATAN

Muhammadiyah masuk di Sulawesi Selatan adalah atas inisiatif  Mansyur Al Yamani. Ia mengundang beberapa orang berkumpul di rumah H. Yusuf Dg. Mattiro di Batong (sekarang pangkalan Soekarno). Pertemuan pertama ini dihadiri oleh 15 orang. Mansyur Al Yamani menjelaskan tentang Persyarikatan Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid, khususnya tentang azas dan tujuan organisasi ini. Ketua PP Muhammadiyah waktu itu ialah K.H. Ibrahim (periode 1923 – 1932).

Sebagai hasil musyawarah dalam pertemuan itu, disepakati mendirikan Muhammadiyah saat itu juga, pertemuan pada malam Ahad tanggal 15 Ramadhan 1346 H / 30 Maret 1926 M. Saat inilah dicatat sebagai momen historis berdirinya Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.

Disusun pula pengurus Muhammadiyah yang terdiri dari mereka yang bermusyawarah waktu itu, sebagai berikut :
Ketua              
H. Yusuf Dg. Mattirodan
Wakil Ketua     K.H. Abdullah.
Sekretaris I     
H. Nuruddin Dg. Magassing
Sekretaris II    
Daeng Mandja
Bendahara       H. Yahya.

Pembantu-pembantu
Mansyur Al Yamani,
H. A. Sewang Dg. Muntu,
G. M. Saleh,
H. Abd. Karim Dg. Tunru,
Osman Tuwe,
Daeng Minggu dan
Abd. Rahman.

Pada malam itu juga Pengurus menulis surat pemberitahuan ke PP Muhammadiyah di Yogyakarta. Kurang lebih 15 hari, datanglah surat balasan pengakuan Pimpinan Pusat (Hoofdbestuur) atas berdirinya dengan istilah “Grup Muhammadiyah Makassar”.

Kemudian Mansyur Al Yamani di utus ke Yogyakarta mengundang Pimpinan Pusat, H.M. Yunus Anis selaku Wakil Pimpinan Pusat di Yogyakarta datang ke Makassar pada bulan Juli 1926, mengadakan pertemuan terbuka (openbare vergadering) yang dihadiri oleh sekitar seribu pengunjung, menjelaskan tentang dasar dan tujuan gerakan pembaharuan ini. Sesudahnya, mengalirlah masyarakat memohon menjadi anggota Muhammadiyah.

Di penghujung tahun 1926, “Gerup Muhammadiyah Makassar” disahkan menjadi “Cabang Muhammadiyah Makassar”. K.H. Abdullah dan Mansyur Al Yamani, dua tokoh yang selanjutnya memimpin gerakan Muhammadiyah memasyarajkatkan cita-citanya.

Maka di awal tahun 1927 Muhammadiyah mulai melangkah keluar kota Makassar. Berturut-turut daerah yang menerima Muhammadiyah : Pangkajene-Maros, Sengkang, Bantaeng, Labbakang, Belawa, Majene, Balangnipa Mandar.

Pada tahun 1928 Muhammadiyah memasuki daerah-daerah : Rappang, Pinrang, Palopo, Kajang, Maros, Soppeng Riaja, Takkalasi, Lampoko, Ele (Tanete), Takkalala dan Balangnipa Sinjai.

Di bawah kepemimpinan K. H. Abdullah dan Mansyur Al Yamani, dengan Sekretaris H. Nuruddin Dg. Magassing; K.H. Abdullah yang pernah belajar di Makkah selama 10 tahun, bekerja keras mengembangkan Muhammadiyah, menambah anggota, memberantas kemusyrikan, bid’ah, khurafat, tahayul. Memimpin pendirian masjid dan mushalla, sekolah-sekolah dan rumah-rumah pemeliharaan anak yatim. Diselenggarakannya berbagai pengajian dan pertemuan tabligh di tempat-tempat umum. Demikian pula gerakan yang sama diselenggarakan oleh Aisyiyah selaku Muhammadiyah bagian perempuan.

Gerakan Dakwah itu berjalan terus walaupun selalu diawasi keras oleh P.I.D., Polisi Hindia Belanda.
Menjelang Muktamar (kongres) ke-21, praktis seluruh daerah di Sulawesi Selatan telah berdiri Persyarikatan Muhammadiyah. Muktamar Muhammadiyah ke-21 pada tanggal 1 Mei 1932 dapat dilangsungkan Muktamar, dihadiri oleh utusan-utusan dari seluruh Indonesia. Kemudian kota ini mendapat kehormatan untuk kedua kalinya, Muktamar Muhammadiyah ke-38 pada tanggal 1-6 Syaban 1391 H atau 21-26 September 1971. Kota Makassar, juga disebut Ujung Pandang dewasa ini.

Sifat perkembangan Muhammadiyah sejak masuknya sampai khususnya pada Muktamar ke-38, mirip dengan perkembangan Islam di awal perkembangannya di Sulawesi Selatan, yaitu berkembang dengan persuasif pada masyarakat, dipelopori oelh kaum ulama dan hartawan dai srata yang sama yakni bangsawan. Hanya saja kelebihan berkembangnya Islam, masuknya keterlibatan langsung para pengatur kekuasaan (raja-raja).


Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website